Jam

Jumat, 15 November 2013

Budaya

Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia.
Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Budiono K, menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan.
Beberapa pengertian kebudayaan berbeda dengan pengertian di atas, yaitu:
  1. Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu.
  2. Kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan kepercayaan seni, moral, hukum, adat serta kemampuan serta kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  3. Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya yaitu masyaraakat yang menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan yang terabadikan pada keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia yaitu kebijaksanaan yang sangat tinggi di mana aturan kemasyarakatan terwujud oleh kaidah-kaidah dan nilai-nilai sehingga denga rasa itu, manusia mengerti tempatnya sendiri, bisa menilai diri dari segala keadaannya.
Pengertian kebudayaan tersebut mengispirasi penulis untuk menyimpulkan bahwa; akal adalah sumber budaya, apapun yang menjadi sumber pikiran, masuk dalam lingkup kebudayaan. Karena setiap manusia berakal, maka budaya identik dengan manusia dan sekaligus membedakannya dengan makhluk hidup lain. Dengan akal manusia mampu berfikir, yaitu kerja organ sistem syaraf manusia yang berpusat di otak, guna memperoleh ide atau gagasan tentang sesuatu. Dari akal itulah muncul nilai-nilai budaya yang membawa manusia kepada ketinggian peradaban.
Dengan demikian, budaya dan kebudayaan telah ada sejak manusia berpikir, berkreasi dan berkarya sekaligus menunjukkan bagaimana pola berpikir dan interpretasi manusia terhadap lingkungannya. Dalam kebudayaaan terdapat nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat dan hal itu memaksa manusia berperilaku sesuai budayanya. Antara kebudayaan satu dengan yang lain terdapat perbedaan dalam menentukan nilai-nilai hidup sebagai tradisi atau adat istiadat yang dihormati. Adat istiadat yang berbeda tersebut, antara satu dengan lainnya tidak bisa dikatakan benar atau salah, karena penilaiannya selalu terikat pada kebudayaan tertentu.
Kebudayaan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, begitu pula sebaliknya. Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan, dan kebudayaan akan terus berkembang melalui kepribadian tersebut. Sebuah masyarakat yang maju, kekuatan penggeraknya adalah individu-individu yang ada di dalamnya. Tingginya sebuah kebudayaan masyarakat dapat dilihat dari kualitas, karakter dan kemampuan individunya.
Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Manusia dengan kemampuan akalnya membentuk budaya, dan budaya dengan nilai-nilainya menjadi landasan moral dalam kehidupan manusia. Seseorang yang berperilaku sesuai nilai-nilai budaya, khususnya nilai etika dan moral, akan disebut sebagai manusia yang berbudaya. Selanjutnya, perkembangan diri manusia juga tidak dapat lepas dari nilai­nilai budaya yang berlaku.
Kebudayaan dan masyarakatnya memiliki kekuatan yang mampu mengontrol, membentuk dan mencetak individu. Apagi manusia di samping makhluk individu juga sekaligus makhluk sosial, maka perkembangan dan perilaku individu sangat mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan. Atau boleh dikatakan, untuk membentuk karakter manusia paling tepat menggunakan pendekatan budaya.
 
Sumber :  http://www.referensimakalah.com/2012/11/pengertian-budaya-dan-kebudayaan.html

Sikap

Sikap – Ada bermacam-macam pendapat yang dikemukakan oleh ahli-ahli psikologi tentang pengertian sikap. Dunia Psikologi akan sedikit mengulas tentang apa sih yang dinamakan sikap? Seperti yang dikatakan oleh ahli psikologi W.J Thomas (dalam Ahmadi, 1999), yang memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya.

Definisi Sikap

Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.
Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Soetarno (1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap

Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
1. Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
3. Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

Sumber :  http://www.duniapsikologi.com/sikap-pengertian-definisi-dan-faktor-yang-mempengaruhi/

Gaya Hidup

Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup merupakan frame of reference yang dipakai sesorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu.
Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.
Fenomena ini pokok pangkalnya adalah stratifikasi sosial, sebuah struktur sosial yang terdiri lapisan-lapisan :
  • dari lapisan teratas sampai lapisan terbawah.
  • Dalam struktur masyarakat modern,
  • status sosial haruslah diperjuangkan (achieved)
  • dan bukannya karena diberi atau berdasarkan garis keturunan (ascribed).
Selayaknya status sosial merupakan penghargaan masyarakat atas prestasi yang dicapai oleh seseorang. Jika seseorang telah mencapai suatu prestasi tertentu, ia layak di tempatkan pada lapisan tertentu dalam masyarakatnya. Semua orang diharapkan mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih prestasi, dan melahirkan kompetisi untuk meraihnya. 
 
sumber:
http://lifestyle-awan.blogspot.com/2009/03/pengertian-gaya-hidup.html

Kepribadian

Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain. Konsep kepribadian merupakan konsep yang sangat luas, sehingga sulit untuk merumuskan satu definisi yang dapat mencakup keseluruhannya.
               
Oleh karena itu, pengertian dari satu ahli dengan yang lainnya pun juga berbeda-beda. Namun demikian, definisi yang berbeda-beda tersebut saling melengkapi dan memperkaya pemahaman kita tentang konsep kepribadian. Apakah kepribadian itu? Secara umum yang dimaksud kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakan dengan orang lain.
Untuk memahami lebih jauh mengenai pengertian kepribadian, berikut ini definisi yang dipaparkan oleh beberapa ahli.
a. M.A.W. Brower
Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.
b. Koentjaraningrat
Kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang.
c. Theodore R. Newcomb
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
d. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
e. Roucek dan Warren
Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang. Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup polapola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.
 
 Faktor pembentuk kepribadian:
1. Pembawaan/ Warisan biologis.
2. Lingkungan Fisik/ Alam.
3. Faktor Sosial.
4. Faktor Kelompok.
Media sosialaisasi pembentukan kepribadian:
1. Keluarga.
2. Sekolah.
3. Teman sepermainan.
4. Sosialisasi di Lingkungan Kerja.
5. Sosialisasi Melalui Media Massa.
6. Masyarakat secara umum.
Tahap pembentukan Kepribadian:
1. Persiapan/ Prepatory stage.
2. Tahap Meniru/ Play stage.
3. Tahap Sikap Bertindak/ Game Stage.
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif/ Generalized Other.
 
Sumber :
 http://ssbelajar.blogspot.com/2013/05/pengertian-kepribadian.html
http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/09/pengertian-kepribadian.html

Minggu, 03 November 2013

Cukup 2 Jam Anak-Anak Bermain Gadget!

Demikaun imbauan dari American Academy of Pediatric, seperti menyadur nydaily, Selasa (29/10/2013).

"Banyak orangtua yang mengerti tentang efek merugikan dari terlalu banyak mengakses teknologi," kata Dr Victor Strasburger, penulis utama dari kebijakan baru tersebut.

"Saya menjamin Anda pasti memiliki anak 14 tahun dan dia memiliki koneksi internet di kamar tidurnya, ia melihat pornografi," imbuh Strasburger.

Kebijakan yang rilis dalam jurnal Pediatrics mengutip studi 2010 yang menemukan remaja Amerika berusia 8-18 tahun menghabiskan sekitar tujuh jam sehari menggunakan beberapa jenis media hiburan. Itu erat kaitannya dengan masalah tidur, intimidasi, obesitas dan kinerja buruk di sekolah.
Sementara kejadian yang belum lama terjadi: gadis asal Florida berusia 12 yang mendapatkanbully teman-temannya secara online di jejaring sosial miliknya dan mendesaknya untuk bunuh diri.

Studi terbaru dari nirlaba Common Sense Media menemukan ketergantungan usia belia pada media. Hampir 40% anak-anak di bawah dua tahun telah menggunakan smartphone dan tablet atau naik 10 persen dua tahun lalu.
Sementara sekitar 75 persen dari anak-anak sampai usia delapan tahun telah menggunakan gadjet dua kali lebih banyak, tahun 2011. [aji]

Sumber :
 http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2042338/cukup-2-jam-anak-anak-bermain-gadget#.UnX4v6yyxYg

Salah Kaprah, 'Me Time' Harus Wah & Waktu Khusus

Di tengah kesibukan aktivitas masyarakat zaman sekarang, bahkan untuk menyediakan waktu bagi kesenangan diri sendiri alias 'Me Time' rasanya sangat sulit.

Psikolog Ayoe Sutomo M.Psi, Psi, mengatakan, masih ada salah persepsi bahwa 'Me Time' adalah menyediakan waktu khusus sampai harus cuti berhari-hari untuk melakukan sejumlah kegiatan yang terkesan wah dan mahal.

"Padahal tidak demikian, 'Me Time' bahkan harus dilakukan setiap hari, bukan hanya sekali-kali atau sekali dalam sebulan. Masa tingkat stres yang setiap hari kita terima karena aktivitas diobati hanya sebulan sekali atau sekali seminggu, bisa menumpuk itu dan akhirnya tidak baik untuk kondisi psikologis kita," kata Ayoe dalam talkshow 'My Bathroom, My Sanctuary' yang diadakan KOHLER di Jakarta, Kamis (31/10/2013).


Psikolog yang menuntaskan studi di Universitas Tarumanegara ini mengingatkan kembali bahwa esensi dari 'Me Time' bukan justru menghindar dari aktivitas sehari-hari tapi meluangkan waktu meski hanya sebentar benar-benar hanya untuk diri sendiri dan menikmati semua yang dilakukan hingga menemukan kesenangan dan kebahagian.

Bahkan Me Time bisa dilakukan di sela-sela kegiatan seperti mandi, memasak, dan aktivitas lainnya asal dilakukan tanpa tekanan dan menimbulkan rasa bersalah atau feel guilty setelah melakukannya.

Bahkan Ayoe tidak setuju ada sebagian orang yang menyebut bahwa 'Me Time' mereka adalah bekerja, bersama anak dan suami atau berlibur mewah ke luar kota, atau bahkan keluar negeri hingga harus cuti berhari-hari dan menghabiskan uang yang tidak sedikit.

"Me Time bukan bekerja, karena kalau bekerja ada target yang harus dicapai, bukan juga bersama anak-anak dan suami. Me Time itu adalah benar-benar untuk diri sendiri, tidak ada orang lain yang terlibat. Tidak perlu harus pergi jauh, jalan-jalan ke Eropa berhari-hari, menggesek kartu kredit, ketika pulang melihat pekerjaan menumpuk belum lagi tagihan kartu kredit yang membengkak, lalu bikin stres, uring-uringan dan merasa bersalah, itu bukan Me Time namanya," ujar Ayoe. [mor]

Sumber :
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2043436/salah-kaprah-me-time-harus-wah-waktu-khusus#.UnX3tKyyxYg

Masih Menjomblo? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Pelatih kencan Damien Diecke menyebutkan ada sejumlah alasan yang mungkin membuat lawan jenis tidak berani atau kurang berminat menggoda, atau bahkan menjadikan Anda pasangan.

Kabar baiknya adalah jika Anda masih lajang, mungkin bukan karena Anda tidak cukup cantik atau mencari cinta di semua tempat yang salah.

Seperti dilansir dariheraldsun, Senin (28/10/2013),Diecke mengatakan, perubahan sederhana dalam sikap dan pendekatan dapat membuat single ladies mendapatkan semua perhatian. [mor]

sumber :
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2042066/masih-menjomblo-bisa-jadi-ini-penyebabnya#.UnX28ayyxYg